Deprecated: mysql_connect(): The mysql extension is deprecated and will be removed in the future: use mysqli or PDO instead in /home/stitnual/public_html/konfigurasi/koneksi.php on line 35

Warning: session_start(): Cannot send session cookie - headers already sent by (output started at /home/stitnual/public_html/konfigurasi/koneksi.php:35) in /home/stitnual/public_html/kontenweb/tema.php(2) : eval()'d code(1) : eval()'d code on line 11

Warning: session_start(): Cannot send session cache limiter - headers already sent (output started at /home/stitnual/public_html/konfigurasi/koneksi.php:35) in /home/stitnual/public_html/kontenweb/tema.php(2) : eval()'d code(1) : eval()'d code on line 11

Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/stitnual/public_html/konfigurasi/koneksi.php:35) in /home/stitnual/public_html/kontenweb/tema.php(2) : eval()'d code(1) : eval()'d code on line 19

Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/stitnual/public_html/konfigurasi/koneksi.php:35) in /home/stitnual/public_html/kontenweb/tema.php(2) : eval()'d code(1) : eval()'d code on line 20

Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /home/stitnual/public_html/konfigurasi/koneksi.php:35) in /home/stitnual/public_html/kontenweb/tema.php(2) : eval()'d code(1) : eval()'d code on line 21
Paradigma Pendidikan Anak Education of the Mind and the Heart - Berita STITNU AL HIKMAH

Paradigma Pendidikan Anak; Education of the Mind and the Heart.

Diposting pada: 2016-01-28, oleh : STITNU AL HIKMAH, Kategori: Artikel

(Sebuah catatan pengalaman belajar dari Adele Diamond, Ph.D dalam Konferensi Pecera 2014)

Oleh: Ulil Abshor Cholish

Malam menunjukkan pukul 20.30 WITA. Setelah menikmati gala dinner di tempat walikota Denpasar, saya langsung menuju bis nomor 5, bis yang menjemput saya dari Inna Grand Bali Beach Sanur Hotel, tempat mengikuti 15th Conference of The Pacific Early Education Research Assosiation. Agak lama saya menunggu bis untuk berangkat. Saya tak melihat Dodo, kenalan baru asal Jogya yang tadi duduk bersebelahan di bis saat berangkat. Tiba-tiba masuk serombongan peserta asal luar negeri dan salah satunya minta duduk di sebelah saya.

May I seat here?,” tanyanya.

Yes, please...,” saya jawab.

Lalu mengalirlah obrolan standar, seperti tanya nama, asal, aktifitas, kesan-kesan dan obrolan ringan lainnya. Dia peserta asal Vancouver Kanada, namanya Adele Diamond. Hingga saat itu saya belum sadar siapa dia sebenarnya. Bis perlahan berangkat dan obrolan berlanjut agak serius membahas presentasi Dr. Silvia C. Chard, salah satu keynote speaker dalam sesi pertama konferensi, kebetulan keduanya sama-sama berasal dari Kanada. Saya menyoroti project approach yang disampaikan Dr. Silvia, terutama tantangan bahwa di Indonesia masih banyak sekali taman kanak-kanak dengan model klasikal dengan jumlah siswa lebih dari 40 hanya dengan 2 orang guru.

What is your suggestion?,” saya bertanya.

“In montessori classroom, there are three ages in same classroom. 2/3 of the children have already had at least one year of socialization and older teach younger emphasis on grace and courtesy,” jawabnya panjang-lebar tetapi tetap dengan ekspresi dinginnya. Saya masih belum sadar juga dengan siapa sebenarnya saya berbicara. Saya ngeyel, bagi saya model kelas montessori bukanlah hal mudah untuk diterapkan di Indonesia.

Karena perjalanan ke lokasi hotel sudah dekat dan saya kok merasa “nyambung” diskusi dengannya, saya minta alamat email barangkali kapan-kapan bisa dilanjut. Eh dia bilang, “Apa saya punya internet di kamar hotel?”. “Koplak..!!,” batin saya dalam hati.

“Googling aja nama saya!,” lanjutnya. Saya pun lantas buka smartphone dan langsung buka google. Dannnn.... jreeengg.... mulai halaman awal, semua penuh info soal dia. Ya, Adele Diamond, Ph.D., profesor dari University of British Columbia, pakar cognitive neuroscience development. Bahkan beliau (:kata gantinya mendadak berubah jadi “beliau” ya?) adalah salah satu panelis yang dijadwalkan panitia dalam dua sesi konferensi ini. Dan saya tidak kenal! Uhuk..

You’re very famous.. especially on google,” saya memujanya, mencoba menyembunyikan rasa malu.

I’m very famous but you don’t know me..!! ha.. ha.. ha..,” tawanya renyah.

(Duh.. rasanya pingin ngilang karena saking malunya)

What is your title of your presentation tomorrow?” tanya saya mengalihkan pembicaraan.

I don’t remember.. there are about 40 seminars around the world which I have to be the speaker,” jawabnya datar. Jleb, agak menyesal saya menanyakan ini karena hanya bikin tambah malu diri sendiri. (he he..)

I must join your session tomorrow.”

Okey, the committe arrange my speech at 11 a.m. before lunch.

Hhmm.. nice to meet you,” saya mengakhiri pembicaraan dan kamipun turun dari bis.

 

Tantangan Anak Abad 21

Beberapa dekade terakhir, diskursus soal pendidikan anak usia dini menjadi semakin menarik. Bukan hanya soal model/metode belajar, konten atau materi, media belajar, kesehatan dan gizi, dan lain-lain termasuk yang lebih spesifik seperti perkembangan otak anak dilihat dari neurosains. Menurut Adele Diamond, Ph.D., ahli cognitive neuroscience development dari University of British Columbia Kanada bahwa untuk bisa sukses menghadapi abad 21 terdapat 4 (empat) kemampuan/keterampilan yang harus dimiliki anak; 1) Creative Problem-solving, anak harus mampu menyelesaikan masalah dengan kreatif. Memiliki ide-ide baru, hipotesis dan menemukan jawaban permasalahan. Anak harus didorong untuk tidak menyelesaikan masalah dengan hanya satu cara, tetapi berfikir out of the box, dengan berbagai bingkai dan sudut pandang.

2) Flexibility, beradaptasi dengan perubahan dan rintangan. Mampu melihat peluang dan mengambilnya. seperti saat mempunyai rencana “x” tetapi ternyata terdapat peluang rencana “y” yang lebih luar biasa maka anak mampu mengambil pilihan dengan fleksibel. Kemampuan ini juga memungkinkan anak untuk bisa menerima perbedaaan bahkan mengakui kesalahan apabila ternyata terdapat informasi baru yang berbeda dengan pengetahuan awalnya.

3) Self-control, mampu menahan diri dari godaan, berfikir sebelum bertindak, mencegah bertindak sesuka hati, bertanggung jawab. Saat anak bermain, ajarkanlah kontrol-diri; tidak merebut mainan teman, menyakiti teman baik secara fisik maupun verbal, dll.

4) Dicipline, beberapa hal penting mungkin sulit dan membosankan bahkan membuat frustasi tetapi ajarkanlah anak menyelesaikannya. “Menunda” memberikan hadiah sampai anak menyelesaikan tanggung jawabnya adalah salah satu contoh melatih disiplin.

Mengembangkan Kontrol Kognitif

Kontrol kognitif atau sering disebut dengan “executive function” adalah serangkaian proses mental yang membantu menghubungkan pengalaman masa lampau dengan kegiatan masa kini. EF (Executive Function) menjadi hal yang krusial dalam pendidikan anak usia dini, dalam masa ini otak anak terus berkembang mencapai kematangannya. Kemampuan kontrol kognitif terbentuk oleh perubahan fisik dalam otak dan pengalaman hidup anak.

EF sangat tergantung pada prefrontal cortex dan bagian syaraf lain yang saling berhubungan. Dan penemuan yang paling penting dalam kajian neurosains adalah bahwa otak bukanlah “takdir”. Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa “pengalaman” membawa pengaruh besar dalam membentuk otak dan pikiran lebih dari yang pernah dibayangkan sebelumnya. Dus, EF sangat tergantung pada otak tetapi bukan berarti tidak bisa dirubah; ia dapat diperbaiki, disempurnakan!

Untuk mempelajari sesuatu yang baru kita butuh prefrontal cortex, sayangnya prefrontal cortex tidak bisa bekerja saat anak berada dalam keadaan tertekan (stress), terisolasi secara sosial atau merasa dalam kesendirian. Maka dalam pembelajaran anak butuh kegembiraan dan merasa rileks, didukung oleh lingkungan, termasuk tubuh dalam keadaan fit dan sehat. Bahkan stres yang kronis adalah “racun” dalam belajar, anak tidak akan bisa berkonsentrasi dan mengingat apa yang mereka pelajari.

Education of the Mind and the Heart

Pembelajaran harus dimulai dari kekuatan anak, bukan pada sisi kelemahannya. Umpan balik yang positif menjadi penting seperti dukungan, “Nak, kamu mampu mengerjakan ini!” bukan dengan ungkapan-ungkapan negatif seperti “Jangan bla.. bla.. bla..” penting juga untuk betul-betul menghindari mempermalukan anak. Maria Montessori bahkan dengan ekstrim mengatakan, “No matter if he does it wrong – do not correct him or he will retire on his shell.”

Pertanyaan yang sering muncul, “Bagaimana bisa seorang anak mempraktikkan kemampuan yang sebelumnya dia tidak tahu/mampu?” Jawabannya adalah apa yang diungkapkan oleh Vygotsky sebagai SCAFFOLDING (pijakan/perancah). Dengan bantuan orang/anak yang lebih dewasa, anak akan mampu mempraktekkan apa yang sebelumnya di tidak mampu kerjakan. Maka pada akhirnya seorang guru berperan layaknya seorang ilmuwan; mendengar, mengobservasi, mengajukan hipotesa, dan melakukan tindakan. Dan hal ini tentu butuh latihan.

Paradigma pembelajaran anak juga musti berubah. Goleman menyatakan bahwa harus ada keseimbangan antara “kepala” dan “hati”. Selama ribuan tahun di semua ragam budaya, anak belajar dengan dongeng, tarian, seni, musik dan permainan. Pasti terdapat alasan mengapa tradisi ini bisa berlangsung begitu lama dan tumbuh di manapun di seluruh penjuru dunia. Musik, tari, olahraga dan permainan memenuhi kebutuhan fisik, kognitif, dan sosial-emosional. Mereka menantang kontrol kognitif kita, membuat kita bangga dan bergembira, memenuhi kebutuhan sosial kita, membantu tubuh kita tumbuh berkembang.

Epilog

Banyak sekali yang peduli dengan masa depan anak usia dini yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Ada UNESCO, pemerintah, universitas, NGO, lembaga riset, asosiasi pendidik, bahkan perusahaan-perusahaan nasional. Itulah mengapa kita perlu membuat jaringan, saling sinau, saling berbagi demi masa depan generasi mendatang. Pengalaman belajar bersama Adele Diamond, Ph.D sungguh luar biasa, kami tak mengenal sebelumnya tetapi karena punya kepedulian yang sama jadinya saling respek dalam hangatnya dialog. Hal yang sama saya rasakan dengan 200 orang lebih peserta konferensi dari 20 negara berbeda.

Masa depan anak-anak adalah tanggung jawab kita bersama. Tantangan begitu nyata dan tentu tidak bisa selesai hanya dengan seminar dan konferensi. Namun saya tetap berbangga hati bisa mengikuti 15th Conference of The Pacific Early Education Research Assosiation yang diselenggarakan di Bali 8-9 Agustus 2014 lalu. (Makasih buat STITNU Al Hikmah atas kesempatan yang diberikan. Ehhmm.. kapan-kapan lagi ya? He he..) Saya jadi tahu, betapa riset pendidikan kita memang masih tertinggal dan harus benar-benar ditingkatkan di negeri tercinta ini terutama riset tentang pendidikan anak usia dini karena mereka adalah masa depan kita, masa depan umat manusia.

Wallahu a’lam..

Padepokan Raudlatul Ulum Klinterejo, 23 Agustus 2014

==> diambil dari blog http://www.duniaulil.blogspot.com



Warning: Illegal string offset 'isi_pengaturan' in /home/stitnual/public_html/kontenweb/modul/detberita.php on line 78
Print BeritaPrint PDFPDF

Berita Lainnya



Tinggalkan Komentar


Nama *
Email * Tidak akan diterbitkan
Url  masukkan tanpa Http://
Komentar *
security image
 Masukkan kode diatas
 

Ada 0 komentar untuk berita ini

Apakah Website sekolah ini bagus ?
Bagus sekali
Bagus
Kurang Bagus
Tidak Bagus
 
153884 Total Hits Halaman
26806 Total Pengunjung
75 Hits Hari Ini
11 Pengunjung Hari Ini
2 Pengunjung Online