Blog

Partnerships-shutterstock_144653342-2

Selasa sore ada telepon dari keponaan, jika rabu 30 Desember 2015 jam 10.00 semua anak dan istriku diminta untuk bergabung dalam renang bersama keluarga alm KH Qomari Hasan Jombang, di Water Land Sooko Mojokerto. Yang sebelumnya telah ada 3 agenda mendahului yaitu Ziarah ke Lamongan dan Tuban (maqam Sunan Drajat, Ibraham Samarqondri, dan Sunan Bonang) plus pantai Delegan Gresik (23/12) Jalan jalan bersama cucu alm KH Nur Kholish ke Nganjuk sekaligus pnjemputan nanda Rizky Aulia Hadiwijaya (27/12) dan Bolang bersama anak cuuc alm. KH. Nur Kholish ke Air Terjen Kabegjan Jembul Jatirejo Mojokerto

Keempat kegiatan tersebut adalah mempersatukan ikatan Saudara sehingga terjalin keharmonisan yang luar biasa, terhadap aktifitas dua keluarga ini penulis perlu berbagi bagaimana keluarga ini menjalin persaudaraan anatar komunitas yang ada di dalamnya;

Keluarga alm KH Qomari Hasan sebagai kyi kampung yang mengawal tarekat Qodiriyah wan Naqsabadiyah banyak memberikan pelajaran kepada penulis. KH Qomari mempunyai 11 putra putra (5 putra+6 putri) beristikan Hj Muslimah, putri KH Syafii Amin (santri mbah Hasyim yang ikut KH Romly Tamin ke Rejoso). Keseharian sebagai pedagang di pasar namun suka sedekah dan selamatan dan orang yang sangat sibuk jika ada tamu datang sehingga pernah mendapat cemohan dari seorang kaya yang sekarang anaknya menjadi bupati, dengan ucapan “ Abah Qomari pintar cari duwit tetapi tidak pandai matematika; karena kegemaran sedekahnya” Tetapi cemohan itu menjadi bumerang karena sang juragan karena putrinya dinikahkan dengan putra kyai namun gagal; cerai dengan 2 putra-putri. Sedang KH Qomari berhasil besanan dengan 5 kyai pemangku pesantren (KH.Khotibul Umam Gayam Mojowarno Jombang, KH Ruhan Nawawi Sememi Gresik, KH Nur Kholish Klinterjo Sooko Mojokerto, KH Basyaruddin Islamail Mojokerto dan KH Khusen Ilyah Syriah NU Mojokerto)

Aurad yang beliau lakukan adalah suka mempersatukan anaknya untuk berkumpul dengan hanya sekedar makan bersama, setiap bulan arisan se keluarga dengan 11 anak tersebut untuk sekedar istighosah dan sesekali dengan aurad lain. Aktifitas arisan ini pernah dilakukan untuk arisan haji yang menjadikan penulis bisa berhaji bersama istri pada tahun 2005. Aktifitas kumpul dalam setiap bulan ini telah banyak menginpirasi banyak keluarga, termasuk keluarga KH Nur Kholish dengan modifikasi di bebarapa aspek.

Keluarga KH Nur Kholish yang kebetulan mempunyai 3 istri dan 11 anak yang hidup, mengadakan pertemuan di setiap Jumat Pahing,.Acara Jumat paing menjadi menarik karena anak dari ketiga istri dapat dipersatukan tanpa ada hambatan, bahkan di setiap hari besar islam siswa-siswi dari tiga lembaga formal yang dimiliki putra putri KH Nur Kholish dipersatukan yaitu MTs Darul Maarif Tinggar Buntut Bangsal Mojokerto, SDI-MTs Al Hikmah Sidoduwe Jetis Mojokerto dan MA-SMK Pesantren Al Hikmah Watesumpak Trowulan Mojokerto dalam wujud PHBI bersama. Muharram di MTs Darul Maarif Bangsal, Maulid Nabi di Pesantren Al Hikmah Watesumpak, Isro’ Mi’roj di MTs Al Hikmah Jetis dan halal bi halal di Pondok Induk Raudaltul Ulum Klinterejo Sooko Mojokerto. KH Nur Kholish sendiri adalah sosok yang sangat peduli dalam mengawal kebersamaan, beliau selalu bersilaturahmi di 2-3 teman dalam setiap pengajian rutin harian di penjuru kampung Mojokerto, Jombang, Gresik dan Lamongan.

Dari keluarga istri KH Nur Kholish, Nya Hj Asiyah mengemas pertemuan keluarga dalam wujud ahad legian dengan diisi menghatamkan al qur-an bersama dan istighosah. Ny Asiyah yang dibimbing ibunya Ny.Hj Sufiah banyak mengajarkan untuk senantiasa berkunjung ke keluarga dalam berbagai kesempatan sehingga menjadi ikatan yang sangat kuat. Ny Asiyah ini sosok yang sangat sederhana dan penuh kesabaran dengan bekal ijazah MI dan berbagai pelatihan beliau bisa mengajar di madrasah Ibtidaiyah hampir 40 tahun.

Adapun nilai yang bisa diwujudkan dalam mengawal persaudaraan adalah :

Ritual Ibadah, misalnya istighosah , hataman al qur-an, yasinan, dibaan, dll. Simbol keagamaan menjadi pengikat yang luar biasa dan juga berfungsi sebagai spiritualisme keberagamaan. Menjadi penguat keimanan, dan pengabdian kepada sang Kholiq. Siapapun yang ingin kompak baik dalam mengawal saudara senasab maupun ikatan komunitas santri, profesi, organisasi bisa menggunakan simbol kegiatan keagamaan untuk mempersatukan anggota, meningkatkan kohefisitas mereka sehingga menjadi ikatan persaudaraan yang kokoh

Liwetan, dan Bancaan,  bisa menjadi media pertemuan antar keluarga. Kegiatan tidak harus mewah tetapi yang mengakrabkan. Tradisi ini banyak dilakukan santri saat hatam al quran dengan bancaan ayam manakiban, hatam ataqrib liwetan,  makan di gelar di daun pisang, bahkan penulis merasa mendapat keakraban dengan kyai dengan liwetan model ini.

Makan setalam, makan bersama bisa menjadi area kekompakan, penulis melihat sekelompok orang yang suka makan setalam jika ada masalah mudah dipersatukan, bahkan kelompok elit Kyai yang anaknya diasuh oleh hadam apalagi satu anak satu hadam kalau ada masalah sulit dipersatukan karena warisan ego sang pembantu dalam memberikan layanan.

Momen Khusus, di setiap ada waktu misalnya liburan keluarga bisa memanfaatkan waktu tersebut untuk keperluan pengakraban, misalnya berkumpul di rumah kasepuhan, bagi santri berkumpul di gotaan dimana seorang santri dibimbing di pesantren. Bagi yang suka berpetualang bisa pergi bersama ke gunung, ke pantai, ke wisata leligi untuk ber-tadabbur alam.

KH Qomari dan KH Nur Kholish sudah berihtiar untuk mengkompakkan di antara anggota keluarga untuk selalu kompak dalam berkhitmad di masyrakat, dan upaya mendekatkan diri kepada Robbnya, Bagaiamna dengan Anda. ?

Padepokan Agung Al Hikmah Trowulan,

31 Desember 2015

Abi Si-Elkila