Blog

research-icon-www-ambulancevisibility

Sabtu 2 Januari 2016, baru sampai di Pesantren Amtsilati Jepata ada sms dari istri anakku Rizky minta kembali ke Pesantren di Nganjuk  sehari lebih cepat dari semula tanggal 3 menjadi 2 Januari 2016 dengan alasan ingin mengadakan mayoran antar teman. Dalam blog penulis tertanggal 31 Januari penulis telah menyinggung budaya liwetan dan makan se talam yang cukup berkesan.

Mayoran menjadi kosa kata penting dalammkehidupan santri, akarena dalam mayoran ada harapan ada kekompoakan, adafilosofi dan makna yang mendalam.

Salah satu nilai pendidikan pesantren yang sudah mulai terkikis atau berkurang adalah membangun hidden kurikulum dalam kontruksi keterpaduan pendidikan yang utuh. Dalam konteks pendidikan in-formal maupun non formal. Untuk menjalin ikatan emosional yang mempunyai nilai lebih interaksi antar teman dan interaksi pengasuh dan santri diperlukan pengemasan yang mempunyai nilai tinggi. Misalnya bagaiamna cara makan yang baik menurut pandangan nilai agama, guru dan murid dapat melakukan simulasi dalam kehidupan nyata dengan makan bersama. Bagaimana adab makan anatar teman kita dapat lakukan bersama.

Kesederhaan kehidupan sehari-hari bagi komunitas santri diwujudkan dalam bentuk berbagai aktifitas termasuk makan. Makan bukan menjadi tujuan namun betul-betul menjadi sarana untuk mendapat kekuatan dalam beribadah dan mengkaji ilmu. Di tengah kesderhaaan itulah santri punya tadisi liwetan, mayoran, makan se talam atau makan berlandasan daun pisang. Tradisi simple ini mempunyai makna yang cukup mendalam bila dikaji secara mendalam.

Jika makan tersebut dilakukan dengan senior bahkan dengan dengan sang maha guru (kyai)  akan mempunyai energi yang luar bisas karena enrgi yang keluar dari asupan didorong energi kebanggan bisa makan bersama sang senior atau kyai. Dalam posisi ini ada aurod cara makan yang benar menurut syariat diaktualisasikan. Etika makan bersama dengan segala nilai moral ditanamkan. Dalam kontek membangun emosi seorang santri dengan guru atau kyai, bisa ditakar seberapa sering makan bersama dilaksanakan. Karena di era pondok pesantren dikelola secara liberal maka bisa terjadi selama nyanti tidak pernah mengalam makan setalam. Penulis sebagai santri dalam perjalanan panjang di pesantren lebih banyak sebagai santri laku daripada santri ilmu, dan berkali-kali berkesempatan makan di atas daun pisang bersama sang maha guru mempunyai nilai tersendiri karena dalam momen seperti inilah sering penulis mendapatkan transformasi keilmuan yang tidak disampaikan sang maha guru kepada santri lain.

Ada hikmah yang dapat diambil dari makan bersama dalam wujud mayoran, lengseran/ se talam, di atas daun pisang atau di “takir” sehabis resepsi kegiatan:

01. Keberkahan, makanan  pemberian hasil selamatan/kenduri “ berkat” perlu dimakan bersama tanpa harus di pisah-pisah, karena makanan yang telah diberkahi dengan kalimat thoiyibah dan doa mempunyai nilai spiritual yang tinggi, bahkan penulis mendapat pencerahan dari ibu Ny. Hj. Asiyah (Pendiri Yayasan Al Hikmah) kalau berkat harus habis karena bisa membuat pintar dan cerdas. Slogan ini menjadikan setiap ada makanan dari kegiatan selamatan selalu habis dimakan. Ada Pengasuh Pesantren di Mojokerto yang mengelola madrasah akselerasi, MBI dan sekolah unggulan yang lain, jika diundang masyarakat selalu minta “berkat” tetapi tidak selalu mau menerima uang transport dari masyarakat, karean sang kyai meyakini makanan “berkah” perlu dimkan keluarganya.

02. Kebersamaan, makan bersama, atau menikamati snack bersama menjadi pengalaman berharga saat penulis nyanti di Pesantren Mahasiswa Al Ihya Darmaga Bogor, di pesantren ini setiap santri berulang tahun, atau tasyakuran terhadap sesuatu yang di gapai, selalu menyiapkan makanan kecil untuk diberkahi dengan doa kemudian dinikmati bersama-sama. Model makan bersama ini menjadi keakraban yang luar biasa bagi santri yang sebagian besar mahasiswa IPB, bahkan penulis sering diundang buka bersama puasa senin, kamis atau puasa sunnah yang lain oleh komunitas mahasiswa yang dilaksankan di kampus atau di rumah kos hanya sekedar membangun ukhuwah anatar sesama komunitas yang suka “ selamatan”

03. Tasyakkuran, santri dengan kesederhaan hidup menjadi ritual kegiatan harian, makan dengan menu super hemat adalah kehidupan kesehariannya. Bersyukur di bawah keterbatasan adalah dengan mayoran menjadi spesial menu pilihan dalam setiap agenda akhir pekan (biasanya malam jumat), menu selapanan, liburan, atau khataman (saat selesai mengakji suatu buku/kitab)

04. Resolusi Konflik, banyak cerita dari para santri dalam satu komunitas pesantren, atau saudara kandung dalam keluarga  jika saat nyantri atau di bawah pengasuhan suka makan se talam, maka  saat ada konflik sangat mudah disatukan namun sebaliknya jika santri atau saudara kandung saat nyanti atau di bawah pengasuhan mempunyai ego tidak pernah makan se talam maka saat ada konflik sangat susah di satukan, dengan cerita ini maka untuk menghindari konflik antar kelompok dan konflik keluarga makan bersama dalam satu talam perlu dilestarikan